*Pengertian
Kewirausahaan
Kewirausahaan (Inggris:
Entrepreneurship) atau Wirausaha adalah proses
mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi
tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam
menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha
baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian.
Kewirausahaan memiliki arti yang berbeda-beda antar para ahli atau sumber
acuan karena berbeda-beda titik berat dan penekanannya. Richard Cantillon
(1775), misalnya, mendefinisikan kewirausahaan sebagai bekerja sendiri (self-employment).
Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya
pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih
menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi risiko atau ketidakpastian.
Berbeda dengan para ahli lainnya, menurut Penrose (1963) kegiatan kewirausahaan
mencakup indentfikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi sedangkan menurut
Harvey Leibenstein (1968, 1979) kewirausahaan mencakup kegiatan yang dibutuhkan
untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum
terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi
produksinya belum diketahui sepenuhny. dan menurut Peter Drucker, kewirausahaan
adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Orang yang
melakukan kegiatan kewirausahaan disebut wirausahawan. Muncul pertanyaan
mengapa seorang wirausahawan (entrepreneur) mempunyai cara berpikir yang
berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka mempunyai motivasi, panggilan jiwa,
persepsi dan emosi yang sangat terkait dengan nilai nilai, sikap dan perilaku
sebagai manusia unggul.
*Karakteristik
Wirausaha
Wirausaha
adalah seseorang yang bebas dan memiliki kemampuan untuk hidup mandiri dalam
menjalankankegiatan usahanya atau bisnisnya. Seorang wirausaha bebas merancang,
menentukan, mengelola dan mengendalikan semua usahanya. Seseorang yang memiliki
jiwa dan sikap wirausaha selalu tidak puas dengan apa yang telah dicapainya.
Dari waktu ke waktu, seorang wirausaha selalu meningkatkan usahanya. Ia selalu
berkreasi dan berinovasi tanpa henti karena dengan berkreasi dan berinovasilah
semua peluang dapat diperolehnya.
Pada
hakekatnya, semua orang memiliki jiwa seorang wirausaha, yang artinya semua
orang bisa menjadi wirausaha. Akan tetapi, tidak semua orang bisa menjadi
wirausaha yang dapat dikarenakan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor
ekonomi, faktor lingkungan, dan sebagainya. Faktor ekonomi yang dapat
menyebabkan seseorang tidak bisa menjadi seorang wirausaha dapat berupa ketidakadaannya
dana untuk membangun sebuah usaha sehingga menghambat orang tersebut tidak
berwirausaha. Faktor lingkungan yang menyebabkan seseorang tidak bisa menjadi
seorang wirausaha adalah karena masyarakat yang tidak mendukung berjalannya
sebuah usaha yang dimiliki oleh orang tersebut. Faktor lain yang dapat
menyebabkan orang tidak bisa menjadi wirausaha adalah faktor dari dalam diri
orang tersebut, yang dapat berupa kurangnya minat atau keberanian dari dalam
diri seseorang untuk menjadi seorang wirausaha. Karena untuk menjadi seorang
wirausaha, kita harus siap untuk gagal. Dan hal tersebutlah yang jarang
dimiliki oleh masyarakat pada umumnya.
Keengganan
masyarakat untuk mendirikan sebuah usaha menjadikan mereka ketergantungan
terhadap orang lain. Mereka lebih menyukai bekerja pada orang lain dan dibayar
oleh orang lain daripada bekerja untuk diri sendiri dan mempekerjakan orang
lain. Padahal, negara-negara berkembang seperti negara Indonesia sangat
membutuhkan orang-orang yang mempunyai jiwa wirausaha untuk mengurangi masalah
terbesar di Indonesia, yaitu pengangguran.
Berikut
ini adalah beberapa ciri-ciri atau karakteristik seorang wirausaha yang jarang
dimiliki oleh masyarakat Indonesia.
1.
Memiliki Rasa Percaya Diri
Entah
karena takut salah atau karena hal lain, masyarakat Indonesia masa kini menjadi
tidak memiliki kepercayaan diri. Hal tersebut terbukti saat mereka duduk
dibangku pendidikan. Saat ditanya oleh guru atau dosen, jarang diantara mereka
yang berinisiatif untuk mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan sang guru.
Bahkan beberapa diantara mereka lebih memilih ditunjuk daripada mengangkat
tangan mereka.
2.
Berorientasi pada Tugas dan Hasil
Maksudnya
adalah seorang wirausaha harus mempunyai sikap tanggung jawab pada tugas-tugas
yang dibebankan kepadanya. Ia juga harus bertanggung jawab pada hasil dari
tugas yang dibebankannya. Dan sayangnya, masyarakat Indonesia sangat sedikit
yang memiliki sikap ini. Sebagian dari mereka menganggap enteng tugas-tugas
yang dibebankan padanya. Misalnya saja, bila seorang mahasiswa diberi tugas
yang akan dikumpulkan sampai hari Senin, ia akan mengumpulkan tugasnya pada
hari Minggu atau bahkan hari Senin.
3.
Berani Mengambil Resiko
Sebagai
wirausaha yang baru, seseorang haruslah berani mengambil resiko dan
menghadapi resiko apapun terhadap langkah yang telah diambilnya.
Seseorang pernah berkata bahwa kita tidak akan pernah memulai sesuatu jika
belum pernah mengalami kegagalan.
Richard
Cantillon adalah orang pertama yang menggunakan istilah entrepreneur di
awal abad ke-18. Ia mengatakan bahwa wirausaha adalah seseorang yang menanggung
resiko. Dalam mengambil tindakan, wirausaha hendaknya tidak didasari oleh
spekulasi, melainkan perhitungan yang matang. Ia berani mengambil resiko
terhadap pekerjaan-nya karena sudah diperhitungkan. Oleh sebab itu, wirausaha
selalu berani mengambil resiko yang moderat, yang artinya resiko yang diambil
tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Keberanian menghadapi resiko
yang didukung komitmen yang kuat, mendorong wirausaha untuk terus berjuang
mencari peluang sampai memperoleh hasil. Hasil-hasil itu harus nyata/jelas dan
objektif, dan merupakan umpan balik (feedback) bagi kelancaran
kegiatannya.
Kemauan
dan kemampuan untuk mengambil resiko merupakan salah satu nilai utama dalam
kewirausahaan. Wirausaha yang tidak mau mengambil resiko akan sukar memulai
atau berinisiatif. Menurut Angelita S. Bajaro, ‘seorang wirausaha yang berani
menanggung resiko adalah orang yang selalu ingin jadi pemenang dan menang
dengan cara yang baik. Wirausaha kurang menyukai resiko yang terlalu rendah.
Keberanian untuk menanggung resiko yang menjadi nilai kewirausahaan adalah
pengambilan resiko yang penuh dengan perhitungan dan realistis. Kepuasan yang
besar diperoleh apabila berhasil dalam melaksanakan tugas-tugasnya secara
realistis.Wirausaha menghindari situasi resiko yang rendah karena dianggap
tidak ada tantangannya, dan menghindari situasi resiko yang tinggi karena ingin
berhasil.
4.
Memiliki Jiwa Kepemimpinan
Kepemimpinan
sangat dibutuhkan oleh seorang wirausaha untuk memimpin anak-anak buahnya atau
pegawainya. Seseorang tidak akan bisa menjadi seorang wirausaha bila ia tidak
bisa memimpin, baik memimpin diri sendiri maupun memimpin orang lain.
Seorang
wirausaha yang berhasil selalu memiliki sifat kepemimpinan, kepeloporan dan
keteladanan. Ia selalu ingin tampil berbeda, lebih dahulu, dan lebih menonjol.
Dengan menggunakan kemampuan kreativitas dan inovasi, ia selalu menampilkan
barang dan jasa-jasa yang dihasilkannya lebih cepat, lebih dahulu dan segera
berada dipasar. Ia selalu menampilkan produk-produk dan jasa-jasa baru dan
berbeda sehingga ia menjadi pelopor yang baik dalam proses produksi maupun
pemasaran. Ia selalu memanfaatkan perbedaan sebagai suatu yang menambah nilai.
Karena itu, perbedaan bagi seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan merupakan
sumber pembaharuan untuk menciptakan nilai. Ia selalu ingin bergaul untuk
mencari peluang, terbuka untuk menerima kritik dan saran yang kemudian
dijadikan peluang. Seorang wirausaha harus memiliki kemampuan untuk menggunakan
pengaruh tanpa kekuatan. Seorang wirausaha juga harus memiliki taktik mediator
dan negosiator daripada diktator.
5.
Keorisinilan
Keorisinilan
atau keaslian maksudnya bahwa orang yang ingin menjadi wirausaha mempunyai
ide-ide kreatif yang asli dan murni dari dirinya, bukan dari orang lain atau
hasil dari plagiarism. Namun sayangnya, kebanyakan masyarakat Indonesia
saat ini tak mau berfikir dan mengemukakan pendapatnya kepada orang lain. Dan
karena hal tersebut, kebanyakan masyarakat saat ini lebih menyukai menjiplak
pendapat orang lain dan yang lebih parahnya lagi, mereka bisa mengatasnamakan
jiplakannya tersebut sebagai hasil karyanya.
6.
Berorientasi ke Masa Depan
Seorang
wirausaha harus mempunyai pandangan tentang masa depannya dan sangat bertekad
untuk meraih kesuksesan di masa depan. Seorang wirausaha haruslah bisa
memprediksi kebutuhan-kebutuhan apa saja yang sangat dibutuhkan oleh mangsa
pasarnya di kemudian hari, tidak stuck hanya memikirkan kebutuhan-kebutuhan
yang dibutuhkan masyarakat saat ini.
Seorang
wirausaha hendaknya harus mampu menatap masa depan dengan lebih optimis.
Melihat ke depan dengan berfikir dan berusaha. Usaha memanfaatkan peluang
dengan penuh perhitungan. Orang yang berorientasi ke masa depan adalah orang
yang memiliki perspektif dan pandangan ke masa depan. Karena memiliki pandangan
jauh ke masa depan maka ia akan selalu berusaha untuk berkarsa dan berkarya.
Kuncinya adalah pada kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru serta berbeda
dengan yang sudah ada. Walaupun dengan resiko yang mungkin dapat terjadi,
seorang yang perspektif harus tetap tabah dan tekun dalam mencari peluang
tantangan demi pembaharuan di masa depan. Pandangan yang jauh ke depan membuat
wirausaha tidak cepat puas dengan karsa dan karya yang sudah ada. Karena itu,
ia harus mempersiapkannya dengan mencari suatu peluang.
7.
Jujur dan Tekun
‘Kejujuran
dan ketekunan merupakan kunci kesuksesan,’ begitulah pepatah mengatakan.
Ternyata untuk menjadi seorang wirausaha juga dibutuhkan sikap jujur dan tekun.
Jujur terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan pegawai-pegawainya.
Tekun dalam mencari ide-ide baru yang lebih kreatif dari ide-ide yang sudah ada
dan tekun dalam merintis usahanya yang baru akan mulai berkembang. Jika seorang
wirausaha tidak jujur dan tidak tekun, bisa dipastikan wirausaha tersebut tidak
akan berhasil dalam usahanya.
8.
Memiliki Motif Berprestasi Tinggi
Para
ahli mengemukakan bahwa seseorang memiliki minat dalam berwirausaha karena adanya
motif tertentu, yaitu motif berprestasi (achievement motive). Menurut
Gede Anggan Suhanda, motif berprestasi adalah suatu nilai sosial yang
menekankan pada hasrat untuk mencapai yang terbaik guna mencapai kepuasan
secara pribadi. Faktor dasarnya adalah kebutuhan yang harus dipenuhi.
Kebutuhan
berprestasi wirausaha terlihat dalam bentuk tindakan untuk melakukan sesuatu
yang lebih baik dan lebih efisien dibandingkan sebelumnya. Wirausaha yang
memiliki motif berprestasi pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1.
Ingin mengatasi sendiri kesulitan
dan persoalan-persoalan yang timbul pada dirinya.
2.
Selalu memerlukan umpan balik yang
segera untuk melihat keberhasilan atau kegagalan.
3.
Memiliki tanggung jawab personal
yang tinggi.
4.
Berani menghadapi resiko dengan
penuh perhitungan.
5.
Menyukai tantangan dan melihat
tantangan secara seimbang. Jika tugas yang diemban seorang wirausaha dirasa
sangat ringan, maka wirausaha merasa kurang tantangan, tetapi ia selalu
menghindari tantangan yang paling sulit yang memungkinkan pencapaian
keberhasilan sangat rendah.
9.
Memiliki Kreativitas Tinggi
Menurut
Teodore Levite, kreativitas adalah kemampuan untuk berfikir tentang hal-hal
baru dan berbeda. Oleh karena itu, menurutnya kewirausahaan adalah berfikir dan
bertindak sesuatu yang baru atau berfikir tentang sesuatu yang lama dengan
cara-cara yang baru. Menurut Zimmerer dalam bukunya yang ditulis oleh Suryana
(2003:24) dengan judul bukunya ‘Entrepreneurship and The New Venture Formation’,
mengungkapkan bahwa ide-ide kreativitas sering muncul ketika wirausaha melihat
sesuatu yang telah lama dan berfikir tentang sesuatu yang baru dan berbeda.
Oleh karena itu, kreativitas adalah menciptakan sesuatu dari yang asalnya tidak
ada. Rahasia kewirausahaan dalam menciptakan nilai tambah barang dan jasa
terletak pada penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan
meraih peluang yang dihadapi setiap hari.
10. Memiliki Perilaku Inovatif Tinggi
Menjadi
wirausaha yang handal tidaklah semudah yang dibayangkan. Namun, wirausaha juga
tidak sesulit yang dibayangkan oleh kabanyakan orang, karena walau bagaimanapun
setiap orang sedang dalam proses belajar berwirausaha. Setiap wirausaha harus
selalu berkreasi dan berinovasi agar usahanya tetap berkembang meski
menjamurnya saingan. Sesungguhnya kewirausahaan dalam batas tertentu adalah
untuk semua orang. Setiap orang memiliki cita-cita, impian, atau
sekurang-kurangnya harapan untuk meningkatkan kualitas hidupnya sebagai
manusia. Hal ini merupakan semacam ‘intuisi’ yang mendorong manusia normal
untuk bekerja dan berusaha. ‘Intuisi’ ini berkaitan dengan salah satu potensi
kemanusiaan, yakni daya imajinasi kreatif yang dapat digunakan untuk berkreasi
dan berinovasi.
11. Selalu Memiliki Komitmen dalam Pekerjaan, Etos Kerja dan
Tanggung Jawab
Seorang
wirausaha harus memiliki jiwa komitmen dalam usahanya dan tekad yang bulat
didalam mencurahkan semua perhatiannya pada usaha yang digelutinya. Dalam
menjalankan usahanya tersebut, seorang wirausaha yang sukses terus memiliki
tekad yang menggebu-gebu dan memiliki semangat yang tinggi dalam mengembangkan
usahanya. Ia tidak pernah setengah-setengah dalam berusaha, berani menanggung
resiko, selalu bekerja keras, dan tidak takut menghadapi peluang-peluang yang
ada. Tanpa usaha yang sungguh-sungguh terhadap pekerjaan yang digelutinya,
wirausaha sehebat apapun pasti akan menemui jalan kegagalan dalam usahanya.
Oleh karena itu, penting sekali bagi seorang wirausaha untuk memiliki komitmen
terhadap usaha dan pekerjaannya.
12. Mandiri atau Tidak Ketergantungan pada Orang Lain
Sesuai
dengan inti dari jiwa kewirausahaan yaitu kemampuan untuk menciptakan sesuatu
yang baru dan berbeda melalui berfikir kreatif dan bertindak inovatif untuk
menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup, maka seorang wirausaha
harus mempunyai kemampuan kreatif dalam mengembangkan ide dan pikirannya
terutama dalam menciptakan peluang usaha yang digelutinya tanpa harus
bergantung pada orang lain. Seorang wirausaha dituntut untuk selalu menciptakan
hal baru dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber yang ada disekitarnya,
mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru
untuk menghasilkan barang dan jasa yang baru yang lebih efisien, memperbaiki produk
dan jasa yang sudah ada, dan menemukan cara baru untuk memberikan kepuasan
konsumen. Oleh karena itu, seorang wirausaha hendaknya mandiri dan tidak
bergantung pada orang lain agar ia dapat lebih berkreasi dan berinovasi dengan
kemampuannya.
13. Selalu Mencari Peluang
Esensi
kewirausahaan yaitu tanggapan yang positif terhadap peluang untuk memperoleh
keuntungan untuk diri sendiri dan atau pelayanan yang lebih baik pada pelanggan
dan masyarakat, cara yang etis dan produktif untuk mencapai tujuan, serta sikap
mental untuk merealisasikan tanggapan yang positif tersebut. Pengertian itu
juga menampung wirausaha yang bukan pengusaha, termasuk yang mengelola
organisasi nirlaba yang bertujuan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik
bagi pelanggan/masyarakat.
14. Memiliki Kemampuan Manajerial
Salah
satu jiwa kewirausahaan yang harus dimiliki seorang wirausaha adalah kemampuan
untuk memanajerial atau mengurus usaha yang sedang digelutinya. Seorang
wirausaha harus memiliki kemampuan perencanaan usaha, mengorganisasikan usaha,
memvisualisasikan usaha, mengelola usaha dan sumber daya manusia, mengontrol
usaha, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaannya yang kesemuanya
itu adalah merupakan kemampuan manajerial yang wajib dimiliki dari seorang
wirausaha. Tanpa itu semua, seorang wirausaha tidak akan mendapat keberhasilan,
melainkan kegagalan.
Selain
ciri-ciri, seorang wirausaha juga menunjukkan sifat-sifat yang selalu
ditunjukkan dalam kehidupan sehari-harinya adalah sebagai berikut.
1.
Disiplin
Dalam
melakukan kegiatannya, seorang wirausaha harus memiliki kedisiplinan yang
tinggi. Arti kata disiplin itu sendiri adalah ketepatan komitmen wirausaha
terhadap tugas dan pekerjaannya. Ketepatan yang dimaksud bersifat menyeluruh,
yaitu ketepatan terhadap waktu, kualitas pekerjaan, sistem kerja, dan
sebagainya. Ketepatan terhadap waktu dapat dibina dalam diri seseorang dengan
berusaha menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan waktu yang direncanakan. Sifat
sering menunda pekerjaan dengan berbagai macam alasan adalah kendala yang dapat
menghambat seorang wirausaha meraih keberhasilan. Kedisiplinan terhadap
komitmen akan kualitas pekerjaan dapat dibina dengan ketaatan wirausaha akan
komitmen tersebut. Seorang wirausaha harus taat pada azas yang berlaku. Hal
tersebut akan dapat tercapai jika wirausaha memiliki kedisiplinan yang tinggi
terhadap sistem kerja yang telah ditetapkan. Ketaatan wirausaha akan
kesepakatan-kesepakatan yang dibuatnya adalah contoh kedisiplinan akan kualitas
pekerjaan dan sistem kerja.
2.
Berkomitmen Tinggi
Komitmen
adalah kesepakatan mengenai sesuatu hal yang dibuat oleh seseorang, baik
terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Dalam melaksanakan kegiatannya,
seorang wirausaha harus memiliki komitmen yang jelas, terarah dan bersifat
progresif (berorientasi pada kemajuan). Komitmen terhadap dirinya sendiri dapat
dibuat dengan identifikasi cita-cita, harapan dan target-target yang
direncanakan dalam hidupnya. Sedangkan contoh komitmen wirausaha terhadap orang
lain terutama konsumennya adalah pelayanan prima yang berorientasi pada
kepuasan konsumen, kualitas produk yang sesuai dengan harga produk yang
ditawarkan, penyelesaian bagi masalah konsumen, dan sebagainya. Seorang
wirausaha yang teguh menjaga komitmennya terhadap konsumen akan memiliki nama
baik di mata konsumen, dengan dampak pembelian terus meningkat sehingga pada
akhirnya tercapai target perusahaan yaiitu memperoleh laba yang diharapkan.
3.
Jujur
Kejujuran
merupakan landasan moral yang kadang-kadang dilupakan oleh seorang wirausaha.
Kejujuran dalam berperilaku bersifat kompleks. Kejujuran mengenai karakteristik
produk (barang dan jasa) yang ditawarkan, kejujuran mengenai promosi yang
dilakukan, kejujuran mengenai pelayanan purnajual yang dijanjikan dan kejujuran
mengenai segala kegiatan yang terkait dengan penjualan produk yang dilakukan
oleh seorang wirausaha.
4.
Kreatif dan Inovatif
Untuk
memenangkan persaingan, maka seorang wirausaha harus memiliki daya kreativitas
yang tinggi. Daya kreativitas tersebut sebaiknya dilandasi oleh cara berpikir
yang maju, penuh dengan gagasan-gagasan baru yang berbeda dengan produk-produk
yang telah ada di pasar selama ini. gagasan-gagasan yang kreatif umumnya tidak
dapat dibatasi oleh ruang, bentuk ataupun waktu. Justru seringkali ide-ide jenius
yang memberikan terobosan-terobosan baru dalam dunia usaha awalnya adalah
dilandasi oleh gagasan-gagasan kreatif yang kelihatannya mustahil.
5.
Mandiri
Seseorang
dikatakan mandiri apabila orang tersebut dapat melakukan keinginan dengan baik
tanpa adanya ketergantungan pihak lain dalam mengambil keputusan atau
bertindak, termasuk mencukupi kebutuhan hidupnya tanpa adanya ketergantungan
ddengan pihak lain. Kemandirian merupakan sifat mutlak yang harus dimiliki oleh
seorang wirausaha. Pada prinsipnya seorang wirausaha harus memiliki sikap
mandiri dalam memenuhi kegiatan usahanya.
6.
Realistis
Seseorang
dikatakan realistis bila orang tersebut mampu menggunakan fakta atau realita
sebagai landasan berfikir yang rasional dalam setiap pengambilan keputusan
maupun tindakan atau perbuatannya. Banyak seorang calon wirausaha yang
berpotensi tinggi, namun pada akhirnya mengalami kegagalan hanya karena
wirausaha tersebut tidak realistis, obyektif dan rasional dalam pengambilan
keputusan bisnisnya. Karena itu dibutuhkan kecerdasan dalam melakukan seleksi
terhadap masukan-masukan atau sumbang saran yang berkaitan erat dengan tingkat
keberhasilan usaha yang sedang dirintis.
Dibawah
ini adalah contoh sikap-sikap yang akan ditunjukkan oleh seorang wirausaha
dalam kehidupannya sehari-hari.
1.
Memiliki sifat keyakinan,
kemandirian, individualitas, dan optimisme.
2.
Selalu berusaha untuk berprestasi,
berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad yang
kuat, suka bekerja keras, energik, dan memiliki inisiatif.
3.
Memiliki kemampuan mengambil risiko
dan suka pada tantangan.
4.
Bertingkah laku sebagai pemimpin,
dapat bergaul dengan orang lain dan suka terhadap saran dan kritik yang
membangun.
5.
Memiliki inovasi dan kreativitas
tinggi, fleksibel, serba bisa dan memiliki jaringan bisnis yang luas.
6.
Memiliki persepsi dan cara pandang
yang berorientasi pada masa depan.
7.
Memiliki keyakinan bahwa itu sama
dengan kerja keras.
Menurut
Zimmerer, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kegagalan seorang
wirausaha, diantaranya:
1.
Tidak kompeten dalam manajerial. Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan dan
pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab utama yang membuat
perusahaan kurang berhasil.
2.
Kurang berpengalaman. Baik dalam kemampuan mengkoordinasikan, ketrampilan
mengelola sumber daya manusia, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi
perusahaan.
3.
Kurang dapat mengendalikan keuangan. Agar perusahaan dapat berhasil dengan baik, faktor yang
paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas. Mengatur pengeluaran
dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan dalam memelihara aliran kas akan
menghambat operasional perusahaan dan mengakibatkan perusahaan tidak lancar.
4.
Gagal dalam perencanaan. Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan,
sekali gagal dalam perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.
5.
Lokasi yang kurang memadai. Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang
menentukan keberhasilan usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan
perusahaan sukar beroperasi karena kurang efisien.
6.
Kurangnya pengawasan peralatan. Pengawasan erat kaitannya dengan efisiensi dan
efektivitas. Kurang pengawasan dapat mengakibatkan penggunaan alat tidak
efisien dan tidak efektif.
7.
Sikap yang kurang bersungguh-sungguh
dalam berusaha. Sikap yang setengah-setengah
terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal.
Dengan sikap setengah hati, kemungkinan gagal menjadi lebih besar.
8.
Ketidakmampuan dalam melakukan
peralihan atau transisi kewirausahaan.
Wirausaha yang kurang siap menghadapi dan melakukan perubahan, tidak akan
menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa
diperoleh apabila berani mengadakan perubahan dan mampu membuat peralihan
setiap waktu.
Jadi, dapat kita simpulkan bahwa ternyata mendirikan atau
mempunyai sebuah usaha atau bisnis tidaklah gampang dan tidak semua orang bisa
melakukannya. Tetapi, kita harus tetap yakin bahwa kita pasti mampu
melakukannya. Kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak?
Para ahli mengemukakan karakteristik
kewirausahaan dengan konsep yang berbeda-beda. Geoffrey G. Meredith (1996 :
5-6), misalnya, mengemukakan cirri-ciri dan watak kewirausahaan seperti berikut
:
|
KARAKTERISTIK
|
WATAK
|
|
Memiliki kepercayaan diri yang
kuat, ketidaktergantungan terhadap orang lain, dan individualistis.
|
|
Kebutuhan untuk berprestasi,
berorientasi laba, mempunyai dorongan kuat, energik, tekun dan tabah, tekad
kerja keras, serta inisiatif.
|
|
Mampu mengambil resiko yang wajar
|
|
Berjiwa kepemimpinan, mudah
beradaptasi dengan orang lain, dan terbuka terhadap saran serta kritik.
|
|
Inovatif, kreatif dan fleksibel
|
|
Memiliki visi dan perspektif
terhadap masa depan
|
|
Sumber : Geoffrey G. Meredith, et
al. Kewirausahaan : Teori dan Praktek Ed. 5 hal 5-6
|
|
Ahli lain, seperti M. Scarborough
dan Thomas W. Zimmerer (1993 : 6-7), mengemukakan delapan karakteritik
kewirausahaan sebagai berikut :
- Desire for responsibility, memiliki rasa tanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukannya.
- Preference for moderate risk, lebih memilih resiko moderat, artinya selalu menghindari resiko, baik yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi.
- Confidence in their ability to success, memiliki kepercayaan diri untuk memperoleh kesuksesan.
- Desire for immediate feedback, selalu menghendaki umpan balik dengan segera.
- High level of energy, memiliki semangat dan kerja keras untuk mewujudkan keinginannya demi masa depan yang lebih baik.
- Future orientation, berorientasi serta memiliki perspektif dan wawasan jauh ke depan.
- Skill at organizing, memiliki keterampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menciptakan nilai tambah.
- Value of achievement over money, lebih menghargai prestasi daripada uang.
Authur Kurilof dan John M. Mempil
(1993 : 20), mengemukakan karakteristik kewirausahaan dalam bentuk nilai-nilai
dan perilaku kewirausahaan seperti :
|
NILAI-NILAI
|
PERILAKU
|
|
Menyelesaikan tugas hingga selesai
|
|
Tidak melakukan spekulasi,
melainkan berdasarkan perhitungan yang matang
|
|
Memanfaatkan peluang yang ada
sebaik mungkin
|
|
Melakukan pengamatan secara nyata
untuk memperoleh kejelasan
|
|
Menganalisis data kinerja waktu
untuk memandu kegiatan
|
|
Menunjukkan kepercayaan diri yang
besar walaupun berada dalam situasi berat.
|
|
Melihat uang sebagai suatu sumber
daya, bukan tujuan akhir.
|
|
Mengelola berdasarkan perencanaan
masa depan.
|
|
Sumber : Fundamental Small
Business Management, 1993, hal. 20
|
|
Keberhasilan atau kegagalan
wirausaha sangat dipengaruhi oleh sifat dan kepribadiannya. Kepribadian
wirausaha terletak pada :
- Kepercayaan diri
- Kemampuan mengorganisasi
- Kreativitas
- Menyukai tantangan
*Peran
Wirausaha Dalam Perekonomian
Tanpa wirausaha sudah
pasti perekonomian bisa berhenti, karena wirausahalah yang menggerakan dan
mengombinasikan faktor produksi alam, tenaga kerja, dan modal untuk
menghasilkan barang dan jasa yang sangat dibutuhkan masyarakat. Dengan
demikian, wirausaha memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian.
Peran wirausaha tersebut bisa dijabarkan sebagai berikut:
1.Mampu Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi
Karena wirausaha mampu menghasilkan barang dan
jasa, makawirausaha mampu meningkatkan PDB (Produk Domestik Bruto).
ApabilaPDB meningkat berarti pertumbuhan ekonomi juga meningkat.
2. Mampu Meningkatkan Pendapatan Per Kapita
Apabila wirausaha mampu meningkatkan PDB
(Produksi Domestik Bruto) dengan presentase peningkatan yang lebih tinggi
dibanding persentase peningkatan jumlah penduduk maka pendapatan per kapita
meningkat. Jika pendapatan per kapita meningkat maka kesejahteraan masyarakat
atau taraf hidup masyarakat juga meningkat.
3.
Mampu Menciptakan Lapangan Kerja
Proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa yang dikelola wirausaha
pasti membutuhkan tenaga kerja. Dengan demikian, wirausaha telah menciptakan
lapangan kerja dan mengurangi pengangguran di masyarakat.
4.
Memberikan Kemudahan dan Kenyamanan Hidup
Berbagai inovasi dan kreasi wirausaha dalam menciptakan produk-produk baru
mampu memberikan kemudahan dan kenyamanan hidup bagi manusia. Mesin Cuci, AC,
Televisi, Handphone, Kamera, Kapal Pesiar, Jasa Titipan Kilat, Jasa Salon
Kecantikan adalah contoh-contoh barang dan jasa yang memberikan kemudahan dan
kenyamanan hidup.
5.
Mendorong Kemajuan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi)
Setiap perusahaan besar umumnya memiliki divisi R & D (Research &
Development), yakni divisi penelitian dan divisi pengembangan. Divisi ini
akan merekrut dan membiayai penelitian yang dilakukan ilmuwan, pakar dan
sejumlah ahli tertentu untuk mengembangkan produk perusahaan. Sebagai bukti,
dulu handphone hanya bisa digunakan untuk menelepon. Sekarang dengan ukuran
yang lebih kecil, handphone bisa memberikan berbagai layanan, seperti kirim dan
terima pesan, kirim dan terima gambar, merekam gambar, radio, dan lain-lain.
6.
Meningatkan Penerimaan Negara dari Sektor Pajak
Dengan adanya wirausaha, penerimaan negara di sektor
pajak meningkat. Pada umumnya wirausaha akan membayar pajak penghasilan, pajak
perseroan (bila perusahaannya berbentuk PT), pajak ekspor (bila wirausaha mampu
mengekspor produksnya), pajk penjualan (PPn), serta pajak penjualan atas barang
mewah (PPnBM)
Mengingat sangat pentingnya peran wirausaha,
pemerintah Indonesia berusaha meningkatkan jumlah wirausaha. Pemerintah telah
merencanakan untuk membentuk kurang lebih tujuh juta pengusaha kecil yang
mandiri dan berdaya saing tinggi. Serta meningkatkan status 50.000 pengusaha
kecil menjadi pengusaha menengah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar